blognya unggun

Megawati Berdoa Di Makam Sultan Buton

Posted on: 24 Juli 2008


Sri dan David tampak takzim berlutut di depan sebuah makam yang panjangnya mencapai tiga meter. Secara perlahan, kedua remaja berusia 18 tahun itu menengadahkan kedua tangannya seperti sedang berdoa sambil memejamkan mata. Dari mulut kedua remaja yang baru saja lulus SMU itu, meluncur beberapa baris doa yang diucapkan dengan nada lirih.

Sepuluh menit kemudian, keduanya keluar dari bangunan makam yang dikelilingi pagar tembok setinggi empat meter. Sambil bergandengan tangan, keduanya menuruni 20 anak tangga menuju ke tempat parkir motor David. Dari bola mata kedua pasangan itu terpancar rasa puas seolah sebuah keinginan yang lama terpendam telah terpenuhi. “Sudah sejak lama saya ingin sekali berziarah ke sini. Tapi, baru kali ini bisa tercapai,” kata Sri.

Lulusan salah satu SMU di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, itu mengaku sengaja jauh-jauh datang ke Kota Baubau hanya untuk berziarah dan berdoa di depan makam Sultan Murhum. Beberapa pekan sebelumnya, Sri mengaku berulang kali bermimpi didatangi oleh seseorang bertubuh tinggi besar berpakaian seperti raja sambil mengenakan sorban yang melilit di kepalanya dan membawa tongkat.

Dalam mimpinya, orang yang berpakaian raja itu menitipkan sebuah pesan kepada Sri. “Saya menitipkan amanah ini kepadamu. Tolong jaga baik-baik. Jangan engkau pakai untuk tujuan yang tidak baik,” kata Sri menirukan ucapan orang yang ada dalam mimpinya.

Setelah bertanya kepada sejumlah orang yang dianggap bisa menjelaskan arti mimpinya itu, Sri kemudian baru tahu bahwa orang yang datang dalam mimpinya itu adalah Sultan Kaimuddin Khalifatul Ghamis atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Murhum.

Sultan Murhum merupakan sultan pertama di Kesultanan Buton yang memerintah selama 46 tahun pada abad ke-15 (1538-1584). Saat mangkat, jenazah sultan itu dimakamkan di puncak bukit Wolio yang memiliki ketinggian sekitar 800 meter di bawah permukaan laut.

Konon, setiap orang yang dengan khusuk berdoa kepada Allah SWT di makam Sultan Murhum itu, permintaannya akan dikabulkan. Salah satu buktinya adalah, ketika Megawati Soekarno Putri berziarah ke makam itu di tengah hiruk pikuknya Pemilu tahun 1999.

Saat itu, usai Megawati berdoa, tiba-tiba langit di sekitar kompleks Benteng Keraton Wolio diliputi mendung, disusul bunyi petir bersahut-sahutan. Imam Masjid Agung Wolio La Ode Abdul Muchri, 67 tahun, yang ketika itu mendampingi Mega mengatakan kejadian alam tersebut pertanda permintaan putri Soekarno itu akan dikabulkan oleh Allah SWT.

“Saat itu saya bilang kepada Ibu Mega bahwa keinginannya untuk menjadi pemimpin negeri ini akan dikabulkan oleh Allah SWT,” kata Muchri yang sekarang telah pensiun sebagai Imam Masjid. Perkataan Muchri itu belakangan terbukti. Megawati kemudian naik menggantikan Gus Dur sebagai presiden.

Makam Sultan Murhum memang obyek wisata menarik yang tak pandang kelas sosial. Di kompleks Benteng Keraton Wolio, makam hanyalah salah satu obyek wisata. Bentengnya sendiri merupakan hal menarik, apalagi menilik sejarah pembangunannya yang panjang.

Saat ini, kompleks benteng ini berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Penduduk kelurahan ini sekitar 376 keluarga atau 1.688 jiwa. Sekitar 99 persen bermukim di dalam kompleks benteng keraton dan hidup sebagai pegawai negeri sipil, anggota TNI/Polri, serta pensiunan. Sebagian besar merupakan keturunan sultan dan aparat perangkat Kesultanan Buton di masa lalu.

Kehidupan warga keraton terlihat sederhana. Sebagian besar dari 295 unit rumah tinggal masih berupa rumah panggung dengan gaya arsitektur rumah adat Buton. Konstruksi rumah kayu itu tidak menggunakan paku sebagai pengikat sambungan. Suasana pedesaan masih kental mewarnai kelurahan tersebut.

“Kami memang melarang masyarakat yang bermukim di kawasan kompleks benteng untuk membangun rumah bergaya modern,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Baubau Muhammad Djudul kepada Tempo News Room.

Benteng Keraton Wolio merupakan salah satu situs peninggalan sejarah terbesar di Pulau Sulawesi. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga/kubu pertahanan (bastion) yang dalam bahasa setempat disebut baluara. Tiap pintu gerbang (lawa) dan baluara dikawal 4-6 meriam. Jumlah meriam seluruhnya 52 buah. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri.

Benteng ini berdiri ketika Sultan ke-4 Kesultanan Buton Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631) gundah melihat banyaknya bajak laut yang menyerang rakyatnya. Untuk menghalau serangan bajak laut itu, Sultan memerintahkan prajuritnya membangun 16 baluara di sekeliling bukit Wolio. Pendirian baluara itu tidak dilakukan sembarangan.

Sultan mendasarkan pembangunan 16 baluara itu pada proses kelahiran manusia. Angka 16 dianggap angka kehidupan (nutfah). Sebab pada umur 160 hari, janin di kandungan seorang ibu akan ditiupkan roh tanda kehidupan oleh Allah SWT. Demikian pula dengan 16 baluara itu. Bangunan-bangunan itu diharapkan memberikan jaminan kehidupan bagi seluruh rakyat Kesultanan Buton pada masa itu.

Sultan Dayanu Ikhsanuddin kemudian digantikan oleh Sultan Abdul Wahab yang memerintah hanya selama setahun (1631-1632). Pada masa pemerintahannya, tak ada perubahan yang berarti pada 16 baluara itu.

Ketika sultan ke-5, Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645) berkuasa, terjadi perubahan besar-besaran. Sultan Gafarul memerintahkan ribuan prajurit dan seluruh rakyatnya membangun benteng besar di puncak bukit Wolio dengan menghubung-hubungkan bangunan baluara itu dalam satu rangkaian.

Agar bangunan benteng yang dibangun itu sesuai dengan keinginannya, Sultan Gafarul Wadudu memerintahkan Perdana Menterinya Maa Waponda menjadi arsiteknya. Maa Waponda lalu membuat rancangan denah bangunan benteng berdasarkan bentuk salah satu huruf dalam aksara Arab yakni “Dhal”. Huruf dhal itu sendiri, diambil dari huruf terakhir yang pada nama Nabi Muhammad SAW.

Alasan Maa Waponda membuat rancangan denah seperti itu, karena ada salah satu sudut bangunan yang tidak dapat dipertemukan. Secara kebetulan, sudut yang dimaksud tepat di atas sebuah tebing yang sangat curam. Bukit Wolio memang berlokasi di sebuah kawasan berbatu cadas.

Karena sejak awal pembangunan Benteng Keraton Wolio didasarkan pada proses kehidupan manusia, Sultan Gafarul Wadudu kemudian memerintahkan pembangunan 12 buah Lawa (pintu gerbang) di sekeliling benteng. Angka 12 mengacu pada adanya 12 buah pintu (lubang) di tubuh manusia sebagai ciptaan Tuhan. Lawana Lanto, yang merupakan gerbang utama Benteng Keraton Wolio merupakan tamsil/pengandaian mulut manusia.

Panjang keliling benteng tersebut 3 kilometer dengan tinggi rata-rata 4 meter dan lebar (ketebalan) dinding mencapai 50 centimeter. Bahan baku utama yang digunakan adalah batu-batu gunung yang disusun rapi dengan kapur dan rumput laut (agar-agar) sebagai bahan perekat. Luas seluruh kompleks keraton yang dikitari benteng 401.911 meter persegi. Untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan masyarakat di dalam kompleks benteng, Sultan Gafurul Wadudu juga membuat pasar.

Begitu besar dan luasnya bangunan Benteng Keraton Wolio itu, memerlukan waktu 13 tahun bagi Sultan Gafarul Wadudu untuk menyelesaikannya. Selama proses pembangunannya, seluruh lelaki yang ada di wilayah Kesultanan Buton diwajibkan terlibat secara penuh.

Konon kabarnya, lantaran seluruh lelaki diwajibkan ikut bekerja dan menginap di sekitar lokasi pembangunan benteng, berakibat pada rendahnya angka kelahiran yang nyaris mencapai nol persen. Setelah 13 tahun bersusah payah, Benteng Keraton Wolio ini selesai.

Di kompleks Benteng Keraton Wolio juga terdapat batu Wolio, batu popaua, masjid agung dan Istana Baadia. Batu Wolio adalah sebuah batu biasa berwarna gelap. Besarnya kurang lebih sama dengan seekor lembu sedang duduk berkubang. Kabarnya, di sekitar batu inilah rakyat setempat menemukan seorang putri jelita bernama Wakaa-Kaa yang menurut cerita berasal dari Tiongkok. Deddy Kurniawan

Sumber tulisan dari Koran Tempo

1 Response to "Megawati Berdoa Di Makam Sultan Buton"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mukadimah

Selamat Datang di blognya unggun. Jangan sungkan dan malu | silahkan dibaca, didunlud dan dicopas artikelnya | jangan lupa tuliskan gundala69.wordpress.com sebagai sumber artikel | tinggalkan jejakmu diruang komen biar aku tahu kedatanganmu | jika ada yang kurang berkenan silahkan add YMku tuk curhatnya. trims..UN69UN

YMku : gun.dala69

lEmbar ArsipKu

RSS sains nEws

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

pEringkat atas

tweet’Ku !!!

pEnyusup :

  • 376,924 ter'identifikasi

pEnutup

Terima kasih atas kunjungannyanya..bila ada waktu jangan lupa tuk nyasar kesini lagi ya..bye..bye

komuni-tasKu

%d blogger menyukai ini: