blognya unggun

Pariwisata Kabupaten Buton *chapter 1

Posted on: 4 April 2008


Rumah Adat Banua Wolio
Banus Wolio artinya Rumah adat Buton, yang mempunyai nama berbeda menurut status penghuni dalam status sosial kemasyarakatan. Rumah adat Buton tersebut terbagi menjadi :

  • Kamali atau Malige untuk tempat tinggal Sultan
  • Rumah pejabat kesultanan
  • Rumah masyarakat umum.

Rumah ini pada umumnya dibagi menjadi 3 (tiga) dengan fungsi sebagai berikut : Ruang depan untuk tamu laki-laki, ruang tengah untuk tamu perempuan dan ruang belakang untuk kamar tidur.Pesta Adat Pakande Kandea
Pakande-kandea adalah suatu event tradisional yang merupakan warisan leluhur Suku Buton yang lahir dan bermula sebagai nazar/syukuran. Dalam tradisi unik ini, disajikan beraneke penganan kecil tradisional yang diletakkan di atas sebuah talam besar yang terbuat dari kuningan dan di tutup dengan tudung saji bosaran. Puncak dari event ini, ketika semua tamu yang diundang mengawali acara makan bersama dengan disuapi makanan oleh remaja-remaja putri yang berpakaian adat dan duduk bersimpuh di sebelah talam.

Seringkali, event ini merupakan ajang promosi remaja-remaja putri untuk mendapatkan jodoh. Selain itu, event ini merupakan arena kebersamaan rakyat untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan dalam hukum adat dan membina hubungan silaturahmi yang penuh keakraban. Tradisi ini merupakan permainan rakyat yang diatur dengan adat serta tata krama dan sopan santun tertentu yang hingga saat ini masih dalam kehidupan masyarakat Suku Buton.

Tradisi Pusuo
Dalam adat suku Buton, setiap anak perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan menjalani tradisi pingitan (Posuo) selama delapan hari delapan malam. Tradisi ini bertujuan untuk membekali anak-anak perempuan dengan nilai-nilai etika, moral dan spritual, baik statusnya seorang anak, ibu, istri maupun sebagai anggota masyarakat. Sesuai proses pingitan, diadakan selamatan dengan mengundang sanak keluarga, kerabat dan handai taulan. Dalam prosesi selamatan ini digelar Tari Kalegoa yang menggambarkan suka duka gadis-gadis Buton dalam menjalani tradisi pingitan tersebut.

Hingga kini tradisi Pusuo ini masih tetap hidup dan lestari sejalan dengan kehidupan masyarakat suku Buton.

Liwu Tongkidi
Pulau Liwu Tongkidi merupakan pulau kecil seluar 1.000 km,, dengan iklim tropis dan rata-rata curah hujan 2.000 mm/tahun. Pulau ini termasuk dalam kawasan pengembangan Terpadu BASILIKA (Batauga, Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua) di Kabupaten Buton. Pulau kecil dikelilingi pasir putih ini memiliki kekayaan bawah laut berupa keanekaragaman terumbu karang dan biota laut yang masih dalam kondisi terjaga dari campur tangan manusia. Pulau ini mudah dijangkau dari Pelabuhan Bau-Bau, ± 15 menit dengan speed boat.

Kawasan Basilika
Kawasan BASILIKA (Pantai Batauga, Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua) memiliki gugusan terumbu karang dan keragaman biodiversity yang terhampar di gugusan pulau-pulau tersebut termasuk, Pulau Batu Atas dan Pulau Kawi-Kawia.

Kepulauan Basilika saat ini menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Buton dengan beberapa pertimbangan antara lain ; pertama kondisi terumbu karangnya relatif masih baik dan serupa dengan strukutur terumbu karang Wakatobi dan Taka Bonerate yang bersebelahan dengana kawasan ini; kedua Basiliki menjadi pilihan lokasi selam bagi Divers selain tujuan selam di Sulsel (Taka Bonerate), Wakatobi ataupun Bunaken.

Hutan Lindung Lambusango dan Kakenauwe
Operation Wallacea telah mengembangkan hutan lindung ini sebagai kawasan ecoturism yang berbasis ilmu pengetahuan dan konservasi, kawasan ini kaya akan keanekaragaman dan keaslian flora dan fauna dan sangat ideal bagi aktivitas petualangan seperti trekking, bird watching, camping dan lain-lain. Setiap tahunnya, ratusan mahasiswa mancanegara melakukan program penelitian di kawasan ini.

Kawasan Hutan Lambusango dan Kakenauwe
kawasan Konservasi Hutan Lambusango dan Kakenauwe di Kecamatan Kampotori dan Lasalimu terbagi 3 kategori :

  • Suaka Margasatwa (± 28510 ha)
  • Cagar Alam Kakenauwe (± 810 ha)
  • Kawasan hutan lindung dan produksi yang terletak disekitar kawasan konservasi (± 35.000 ha)

Aktivitas Ekoturism dengan menggunakan Labundo-bundo sebagai home base, telah mendatangkan wisatawan atau volunteer di bawah operation Wallacea ratusan orang setiap tahunnya.

1 Response to "Pariwisata Kabupaten Buton *chapter 1"

buton is the best……… it’s a wonderful island

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mukadimah

Selamat Datang di blognya unggun. Jangan sungkan dan malu | silahkan dibaca, didunlud dan dicopas artikelnya | jangan lupa tuliskan gundala69.wordpress.com sebagai sumber artikel | tinggalkan jejakmu diruang komen biar aku tahu kedatanganmu | jika ada yang kurang berkenan silahkan add YMku tuk curhatnya. trims..UN69UN

YMku : gun.dala69

lEmbar ArsipKu

RSS sains nEws

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

pEringkat atas

tweet’Ku !!!

pEnyusup :

  • 376,924 ter'identifikasi

pEnutup

Terima kasih atas kunjungannyanya..bila ada waktu jangan lupa tuk nyasar kesini lagi ya..bye..bye

komuni-tasKu

%d blogger menyukai ini: