blognya unggun

Tukang Besi Utara

Posted on: 15 Maret 2008


Etnis Tukangbesi dijumpai di dua pulau kecil yang terbentang bagian tenggara Sulawesi. Istilah Utara terkait dengan mereka yang tinggal di bagian utara pulau tersebut. Mereka dekat dengan Wolio (juga dikenal dengan Buton) dan Muna. Bahasa mereka, yang dinamakanl Tukan-Besi, adalah rumpun Bahasa Austronesia, dan mirip dengan Cia-Cia.

Sekitar abad ke-15, migran dari Johore mendirikan kesultanan Buton, yang memasukan Kepulauan Tukangbesi dan diperintah oleh raja. Pada 1540, raja ke-6 memeluk Islam, menjadikannya sultan pertama.

Kesultanan Butontetap independen hingga wafatnya sultan terakhir di tahun 1960. Pada saat itu, kesultanan dibubarkan dan pada akhirnya disatukan dengan bangsa Indonesia. Penyatuan ini, telah berdampak pada pupusnya tradisi Buton.

Masyarakat Tukangbesi banyak menggantungkan hidup dari bertani karena tanah di pulau tersebut cukup subur. hasil utama yang dikembangkan adalah padi jagung, padi ladang, dan ubi kayu. Banyak juga orang Tukangbesi yang jadi nelayan dan pembuat perahu. Namun, karena kesempatan ekonomi yang terbatas, banyak dari mereka yang berlayar jauh untuk mencari uang pada perusahaan-perusahaan komersial ataupun menjadi tenaga kerja. bahkan beberapa dari mereka belum pernah kembali. Saat ini, orang Tukangbesi kebanyakan hidup di bagian timur Indonesia.

Berlayar jauh dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, disamping pandai besi, membuat perahu, perajin kuningan dan perak. Barang pecah belah, tenunan, membuat makanan, menjalankan pekerjaan rumah tangga, dan mengatur keuangan keluarga adalah tugas pokok perempuan.

Rumah masyarakat Tukangbesi dibangun diatas tanah dan terbuat dari papan yang kokoh. Atapnya terbuat dari papan kecil, daun palem, dan rumah-rumah tersebut hanya memiliki jendela kecil. Kebanyakan desa memiliki pasar dimana sutra tenun, kain katun dan barang tenunan lainnya diperdagangkan. Banyak desa juga memiliki toko-toko kecil, dan para penjaja terlihat menjual aneka dagangan.

Monogami (satu suami, satu istri) merupakan yang paling banyak saat ini. Meskipun para orang tua terlibat dalam perencanaan perkawinan, para muda-mudi bebas menentukan pasangan mereka. Setelah perkawinan, pasangan ini tinggal dengan keluarga pengantin wanita hingga suami dapat membangun rumah sendiri. Bayi mereka dibesarkan oleh ayah dan ibu.

Pendidikan bernilai tinggi bagi laki-laki maupun perempuan pada masyarakat Tukangbesi. Penekanan terhadap pendidikan ini telah membuat seni sastra mereka untuk menulis, menghasilkan penulisan buku-buku dan puisi-puisi panjang yang telah menjadi bagian dari budaya Tukangbesi. Pengetahuan akan bahasa asing juga didorong, dan banyak orang Tukangbesi memperbaiki posisi mereka di masyarakat.

Islam pertama kali diterima oleh bangsawan wilayah ini. Mereka berbagi pengetahuan agama mereka dengan rakyat jelata, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang terbatas, mempertahankan orang-orang desa tergantung pada mereka. Saat ini, 99% orang Tukangbesi Utara adalah Muslim, tetapi kepercayaan akan makhluk gaib memainkan peran pada kehidupan pedesaam. Makhluk-makhluk tersebut mencakup roh penjaga, roh panen, roh jahat yang menyebabkan kesakitan, dan roh yang membantu yang memberikan bimbingan. Roh nenek moyang diajarkan untuk membantu sanak famili mereka yang hidup atau menyebabkan kesakitan, tergantung pada prilaku sanak famili tersebut. Orang Tukangbesi juga menganggap alam sebagai wujud ciptaan Tuhan, dan karenanya, itu dipuja.

Sufis (sebuah bentuk mistik Islam) juga terdapat diantara masyarakat Tukangbesi. Sufis percaya bahwa meditasi mungkin berakibat pada pandangan kepada Allah, atau pengetahuan-dalam secara langsung dari Allah. Sebagai akibat dari pengaruh keyakinan Hindu, banyak diantara mereka juga percaya akan reinkarnasi (perputaran hidup terus-menerus antara kematian dan kelahiran kembali).

1 Response to "Tukang Besi Utara"

masyarakat tukang besi itu topiknya……….kan kenapa tidak dipaparkan lebih jelas daerah2 mana yang termasuk dalam masyarakat tukang besi…….karean pernah saya temukan dalam peta disekitar pulau buton daa yang dikenal dengan kepulauan tukang besi basru sekarang katanya dirubah menjadi kep. wakatobi… apakah masyarakat kepulauan wakatobi bisa dikatakan masyarakat tukang besi………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mukadimah

Selamat Datang di blognya unggun. Jangan sungkan dan malu | silahkan dibaca, didunlud dan dicopas artikelnya | jangan lupa tuliskan gundala69.wordpress.com sebagai sumber artikel | tinggalkan jejakmu diruang komen biar aku tahu kedatanganmu | jika ada yang kurang berkenan silahkan add YMku tuk curhatnya. trims..UN69UN

YMku : gun.dala69

lEmbar ArsipKu

RSS sains nEws

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

pEringkat atas

tweet’Ku !!!

pEnyusup :

  • 376,924 ter'identifikasi

pEnutup

Terima kasih atas kunjungannyanya..bila ada waktu jangan lupa tuk nyasar kesini lagi ya..bye..bye

komuni-tasKu

%d blogger menyukai ini: