blognya unggun

Kesultanan Buton *chapter 3*

Posted on: 14 Maret 2008


B. Gagasan-gagasan yang Berkaitan dengan Reinkarnasi

b.1 . Pengaruh terhadap waktu dan tempat reinkarnasi

Ada kepercayaan bahwa orang tertentu punya kekuatan untuk menentukan kapan orang mati dikubur, dimana, dan kapan rohnya akan kembali. Di Wolio orang demikian disebut motaurakea, dan di Lia dan Rongi (nama desa) pasucu. Di Wolio kepercayaan akan hal ini masih kuat, di Lia dan Rongi tak begitu kuat. Keluarga mendiang akan memilih seseorang yang punya bakat ini, dan ia akan menguburkan orang yang meninggal itu secara baik dan memanjatkan doa yang tepat.

Salah seorang informan (Wolio) ingat bahwa pamannya berlaku sebagai motaurakea pada suatu pemakaman. Keluarga orang yang meninggal itu bertanya, ‘Kemana Anda akan bawa arwah itu?’ ia menjawab dengan serta merta, ‘Saya membawanya kesini,” seraya menunjuk kepada satu keluarga yang hadir. Tidak begitu lama arwah mendiang lahir kembali dalam keluarga itu. (Penelitian Antropolgi Pim Schoorl, tentang Masyarakat, Sejarah Dan Kebudayaan Buton: 1984}

Di Rongi pernah ada kepercayaan bahwa orang dapat berlaku sebagai pasucu, tetapi sekarang pendapat yang dominan ialah cepatnya roh kembali tergantung pada amal ibadahnya dan kadar dosanya. Dan diantara mereka ada yang menolak jalan pikiran bahwa, pasucu dapat menentukan kemana arwah kemana arwah itu akan kembali. Ia yakin bahwa arwah sumanga yang sudah bersih atau suci akan mencari sendiri tempat yang baik. Jika tidak ada hubungan baik antara suami-istri di kalanagan sanak terdekat, maka arwah tidak ingin kembali kesana. Tetapi arwah biasanya kembali ke tubuh seorang cucu. Ini disebut “ditempati oleh almarhum” (kabolisina mia mate). Kemungkinan kembalinya arwah diluar keluarga almarhum atau bahkan di luar Rongi bisa saja terjadi.

Menurut adat, mula-mula arwah pergi ke semacam surga (kacingkia, kepercayaan akan surga dimana cingkaha, arwah, juga disebut sumanga, tinggal). Surga serupa dengan tempat tinggal orang hidup, dan disanalah diambil keputusan tentang kembalinya arwah oleh Tuhan (Kawasana Ompu).

Setiap tahun pada hari pertama bulan puasa (Ramadhan), berlangsung pertemuan di batula (surga), dan pada kesempatan ini arwah dapat bertanya kepada Kawasana Ompu tentang keputusan tentang pemberian keputusan baru. Kerabat yang masih hidup dapat meringankan nasib roh dengan memanjatkan doa untuknya dengan berzikir dambil menyiramkan air diatas kuburan (kabubusi).

Dengan cara ini, dosa almarhum juga dikurangi. Jika dosanya sangat besar, mungkin arwah tidak dapat menebusnya, bahkan setelah melewati masa tujuh tahun. Kemudian arwah itu lahir kembali, akan tetapi orang yang menjadi reinkarnasinya akan cacat.

Dalam pemikiran keagamaan Buton, ada tujuh alam yang diperbedakan. Pembedaan tujuh alam itu (martabat tujuh) juga ditemukan dalam konstitusi kesultanan. Menurut sejarah Buton, versi pertama konstitusi itu dirancang oleh sultan keempat, La Elangi (1578-1615) dengan bantuan ahli agama dari Arab, Syarif Muhammed (bandingkan dengan contoh gagasan reinkarnasi diatas). Tiga alam pertama, alam ahdat (ahadiyya), alam wahadat (wahda), dan alam waahidiyat (wahdiyya), dan secara keseluruhan merupakan wewenang Tuhan. Manusia tidak mempunyai gambaran tentang tiga alam pertama tersebut. Alam kedua dan ketiga memiliki persamaan dengan keadaan di bumi. Akan tetapi, hanya di alam keempat ada semacam persolan tentang, perintah agar menjadi (kun). Ini alam arwah. Arwah berpindah ke pikiran, otak bapak, dan menitis dalam pikiran bapak. Pasangan yang menikah harus meminta arwah yang sempurna dan baik dari orang yang meninggal yang tinggal bersama Rasul, bagi anaknya. Dimana akan menikmati usia panjang serta kemakmuran dan penyempurnaan agama yang kaut. Lalu dari sana arwah akan bergerak ke alam yang kelima, alam masal dan disini dibentuk citra, pemikiran, gagasan dalam kandungan ibu. Dalam rahim ibu itu terjadi perubahan bentuk dari setetes cairan (air mani), yang berubah menjadi daging dan darah; menjadi tubuh. Itu alam keenam, alam ajisam. Alam masal dan alam ajisam berlangsung selama 40 hari. Selama alam ajisam orang tua harus berhati-hati agar tidak menderita cacat dan tidak mendapat masalah dalam pertumbuhannya. Dalam kurun waktu itu juga watak anak terbentuk. Janin berkembang menjadi makhluk dengan panca indera; seorang manusia. Kemudian alam ketujuh, alam insan atau alam manusia dicapai.

Kendati arwah masih berada dalam alam insan orang tua harus selalu berdoa untuk kesucian. Setiap waktu, air yang digunakan untuk penyucian sebelum doa mereka panjatkan: “Ya Tuhan, sucikan hatiku, hidupku, seperti saya berada di alam insan”. Ini merupakan inti doa yang diucapkan dalam bentuk batata khusus, atau ungkapan (pra-Islam).

Ada juga pertalian antara gagasan tentang reinkarnasi dan selamatan peringatan upacara untuk orang meninggal pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan keseratus dua puluh setelah wafatnya. Terdapat semacam peresamaan dalam perkembangan antara reinkarnasi arwah melalui kelahiran baru dan penguraian mayat.

Setelah tiga hari jenazah menjadi bengkak, tetapi belum pecah. Dalam rentang waktu itu arwah mencari-cari, namun tidak dapat menemukan tempat tinggal. Setelah tujuh hari, tubuh menjadi bengkak dan mulai pecah terurai, cairan dan darah mengalir keluar. Dalam periode ini, arwah ditiup kedalam nyawa yang didorong oleh zikir secara terus-menerus oleh mereka yang menghadiri selamatan. Namun, arwah belum juga masuk kedalam tubuh. Setelah empat puluh hari sebagian besar jenazah menjadi busuk, walaupun tulamg belulang masih diliputi daging dan darah. Arwah kemudian mengambil bentuk mereka yang pertama dalam kepala bapak, akan tetapi masih belum mempunyai wujud lahiriyah. Baru setelah seratus hari berlalu, sekujur mayat menjadi busuk. Kemudian arwah bersama nyawa masuk kedalam ibu melalui pikiran bapak, dan kemudian melalui persetubuhan. Badan mulai berkembang dan semua belum sempurna, namun masih belum tumbuh mendewasa-indapo aseko o kauna limana, yakni jari tangan dan kaki belum terbuka. Setelah seratus dua puluh hari seluruh tubuh sudah sempurna dan hanya tinggal tumbuh lagi.

Ilmu tentang asal mula manusia, tentang berbagai alam tempat tinggal arwah sebelum lahir sangat penting baik untuk orang muda maupun orang tua jika mereka ingin terbebas dari kesombongan dan kecongkakan. Acuan pada rahim merupakan pernyataan kerendahan hati: dengan demikian orang tidak akan lupa bahwa ia berasal dari keadaan yang tidak bersih. Bahkan pada saat senang orang harus sadar akan hal ini. Begitulah kepercayaan sejati. Bahkan mereka yang jarang ke masjid namun hidup dengan pemikiran ini, adalah penganut agama yang baik. Inti kejahatan terletak kepada kesombongan, keangkuhan, dan lupa pada asal-usul.

Ilmu tersebut sering disebut ilmu tauhid (ilmu kejadian), ilmu tentang menjadi ada. Ilmu ini penting jika orang ingin mengetahui tentang diri sendiri dan asal-usulnya. Tanpa ini, orang benar-benar tidak dapat yakin adanya Tuhan.

Seandainya orang telah mencapai ilmu itu, maka ia telah mencapai taraf kenal akan hakikat. Pada tingkat ini, orang tidak harus sembahyang (shalat) secara teratur, karena bila sudah dekat pada Tuhan orang tidak perlu lagi bersembahyang. Lalu orang sudah berjalan di sisi Tuhan. Mereka yang telah mencapai taraf ini, para ahli tasawuf atau ahli sufi, terlepas dari soal keduniaan. Mereka yang telah menimba banyak ilmu, yang sangat mendekati Tuhan (opoopoti oputa, secara harfiah “merenungkan Tuhan) dapat menentukan kemana arwah mereka akan pergi, sebagaimana dapat mereka lakukan juga hal-hal lain yang tidak dapat dilakuakan oleh orang biasa.

Di lain pihak, dikatakan pula bahwa kehidupan baik dapat diganjar dengan kehidupan berikut yang lebih baik. Seseorang dari golongan bangsawan lapis ketiga (papara) dapat dilahirkan kembali sebagai anak dari walaka (lapis kedua) atau dari La ode (lapis pertama) atau pada zaman dahulu bahkan bisa jadi adalah sultan sendiri. Sebaliknya, seseorang yang hidup buruk dapat dilahirkan kembali ke golongan yang lebih rendah. Terkadang hal itu juga dipandang sebagai seorang perempuan. Dahulu perempuan biasanya meratapi kenyataan bahwa mereka dititiskan sebagai perempuan karena orang laki-laki selalu dianggap lebih penting dan anak laki-laki lebih dimanjakan daripada gadis.

Konon, di Rongi orang percaya bahwa hidup buruk, seperti mengumbar nafsu birahi dapat mengakibatkan roh kembali dalam wujud binatang. Ini bisa segala macam hewan bahkan seekor babi.

b.2. Berubah menjadi binatang

Perjalanan arwah ke alam binatang disebut dauru (dawr = perubahan). Dalam kepercayaan Wolio dan Pulau Muna, perjalanan itu tidak berhubungan dengan hukuman atas hidup buruk. Sebaliknya, orang yang dapat menjalani perubahan ini sangatlah suci. Kisah yang terkenal ialah Sangia-i-rape, putra Sultan Murhum (k.l.1491-1537; bandingkan dengan Zahari 1977, I:46; nama sangia juga menunjukan kesucian).

Cerita ini berlangsung di Muna. Sangia-i-rape terkenal telah menuntut ilmu kebatinan. Pada suatu hati ia memperhatikan kulitnya yang mulai menyerupai kulit buaya. Putranya Sangia Wambulu, juga mengetahuinya dan merasa malu. Ia berkata kepada ayahnya, “Lebih baik saya bawa ayah ke laut, mandi disana.” Ketika mereka tiba di laut, Sangia-i-rape menaruh sarungnya di atas batu dan dimandikan oleh putranya. Ketika dimandikan, ia betul-betul berubah menjadi buaya. Karena ilmu yang ia tuntut itu, ia dapat langsung berubah menjadi buaya. Menurut seorang informan dari Wolio, ia jelas telah begitu dekat padaTuhan (opooputi oputa) karena dapat menjadi apa saja yang dia inginkan. Jika seseorang sudah begitu dekat pada Tuhan dan mencapai penyatuan dengan Tuhan seperti itu, maka ia dapat berbuat apa saja yang disukainya.

b.3. Mengenal arwah mendiang pada anak-anak

Kadang kala seorang kerabat dengan jelas akan menyatakan, sebelum meninggal, kepada siapa dia akan kembali. Pada beberapa anak, reinkarnasi ini jelas kelihatan dari roman muka dan atau kelakuan. Cucu laki-laki sultan terakhir, reinkarnasi permainsuri sultan, membuat hal ini jelas karena sebagai anak kecil ia mampu mengenali perhiasan mendiang permainsuri dan mengakui sebagai miliknya.

Sultan Muhammad Idrus (Sultan XXIX: 1824-1851 M) juga tahu siapa yang menitis pada dirinya, sedangkan putranya Mohammad Isa (Sultan XXX : 1851-1861 M), serta merta berbicara setelah kelahirannya berkat arwah yang menitis pada dirinya.

C. Percaya pada Reinkarnasi dan Gagasan-gagasan Keagamaan Lain

c.1. Percaya pada reinkarnasi dan Islam

Informan yang memberikan keterangan kepada Pim Schoorl, sangat percaya pada reinkarnasi, memperkenalkan pandangan hidup Islam yang ortodoks (kolot) tetang kehidupan setelah mati, sedangkan ia juga mempercayai bahwa reinkarnasi sangat cocok dengan Islam.

Doa-doa Islam dan ayat-ayat Qur’an yang dibaca dikuburan dimaksudkan untuk membawa kebaikan bagi orang yang mati. Jadi, ikhlas, zikir, dan tasbih dibacakan di makam guna menjamin kesejahteraan orang yang meninggal. Istigfar dan tobat dimasudkan untuk mendapatkan pembebasan dosa. Namun, kebajikan yang diperbuat mendiang/almarhum melalui amal shaleh sangat menentukan.

Meskipun demikian, ada pula kepercayaan pada kembalinya arwah yang dipandang tidak bertentangan dengan Islam. Orang yang benar-benar percaya pada reinkarnasi biasanya menjalani hidup dengan baik, menepati janjinya, menolak hidup mewah, menahan semua keinginan untuk mengungguli orang lain dan menahan diri supaya tidak sombong dan ia mengutuk tingkah laku seperti itu pada orang lain.

Mereka memperoleh pembenaran atas kepercayaan pada reinkarnasi dalam sebuah ayat al-Qur’an yang mereka baca sebagai pujian setiap hari setelah shalat. Disitu dinyatakan” Perpindahan malam ke siang dan perpindahan siang ke malam; dan masuknya hidup dari mati bagi siapa saja yang disukainya dengan tidak menghitung. Tuliju al-layla fi an-nahari, wa-tuuliju an-nahara fi al-layli, wa tukhriju al-hayya min al-mayyiti, wa-tukhriju al-mayyita min al-hayyi, wa-turziqu man tahsa’u bi-ghayri hisaabin.(Qur’an, 3:27) dan (Arbery 1955, I:76).

Antara ilmu tasawuf (Islam) dan perundang-undangan Kesultanan Buton memang ada hubungan. Murtabat Tujuh juga menyatakan bahwa arwah berpindah, teristimewa pada bagian: orohi yitu kalipa-lipa, rohi yitu ooni arabu, maanan olipa (Wolio). Dalam bahasa Arab nyawa itu disebut roh, karena selalu pergi atau berpindah dan sebab itu roh dalam bahasa Wolio dikataka lipa, artinya pergi. Teks Wolio itu mempunyai arti harfiah: roh itu pergi terus-menerus, roh itu kata Arab yang artinya “pergi”.

Dalam doa kepada Tuhan, berdoa untuk para arwah juga ada bagian yang biasa dibaca: “Ya Tuhan ampunilah kami dan dia. Biarlah dia mempunyai tempat yang lebih baik, gantilah yang tidak baik dengan yang lebih baik dan berikanlah banyak cahaya kepadanya dalam kuburan.” Dan untuk arwah mereka yang relatif telah lama meninggal, maka kata-kata berikut: Engkau punya kuasa mengatur segala sesuatu. Kami tidak tahu apakah arwah itu masih ada dalam makam atau telah berpindah ke tubuh lain, tetapi Engkau punya kuasa mengatur segala-galanya.

Pada tahun 1939, La Malangka, kepala desa Bau-bau dan seorang Muhamadiyyah menegaskan mati itu adalah mati dan tidak ada soal kembali. Kepala desa Nganganaumala, Haji Abdullah bertanya kepadanya, dimana dapat ditemuakn teks atau ayat yang menunjukan tidak ada reinkarnasi. Dan Ia bertanya, “Apa artinya ayat berikut dari Qur’an ini: ”Perpindahan malam dst?” (lihat di atas). Bagaimanapun juga mati masuk kedalam kehidupan bukan mati mengganti kehidupan. Dan La Malangka tidak mampu menjawab hal tersebut.

Islam secara resmi tidak mencoba dengan jelas menentang kepercayaan pada reinkarnasi. Namun, orang Buton tidak memperlihatkan kepercayaannya demi menghindari perselisihan pendapat

c.2. Percaya pada reinkarnasi dan pemujaan leluhur

Dalam agama Buton, ada tempat yang ditetapkan untuk pemujaan leluhur. Tetapi bukan mendeskripsikan sebagai tempat dan ‘pemujaan’ yang terlalu jauh. Pada berbagai upacara muslim, makam leluhur disirami air. Seorang tua yang berilmu, memanjatkan doa atau mengucapkan patah (batata) untuk air itu. Kembang-kembang dan wangi-wangian dibubuhkan pada air tersebut. Bila bersiap pergi jauh atau sekembalinya, orang akan ke makam leluhur atau orang tua untuk berdoa. Orang pergi ke kuburan orang yang telah tiada, menurut keyakinan masyarakat Buton, orang yang telah tiada telah kembali ke kehidupan ini melalui reinkarnasi mereka teristimewa pada anak-anak mereka sendiri. Bagi mereka hal ini merupakan gagasan yang kompleks dan mereka tidak mencoba menetapkan hubungan yang masuk akal.

Memang dari penjelasan tentang diatas akan menimbulkan pertanyaan, sebagaimana pernah terjadi percakapan antara tetua adat dengan anaknya pada tahun 1984, sang anak menanyakan “Bagaimana mungkin banyak manusia yang lahir sedangkan jumlah arwah tetap?” Tetua adat tersebut kemudian memberikan jawaban kepadanya bahwa satu arwah dapat menitis lebih dari satu kali. Adakalanya seseorang yang telah meninggal, kembali melalui lebih dari sepuluh cucu.

Ada satu jawaban mengenai hal tersebut yang diberikan seorang informan kepada Schoorl: “Tuhan punya kekuasaan menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Tuhan Maha Kuasa dan dapat membuat banyak dari apa saja. Ia memberi siapa saja sebanyak yang Ia suka, sedikit atau banyak, tanpa memperhitungkan; bagi Tuhan segala sesuatu mungkin. Karena ditulis dalam Qur’an, soal ro/arwah merupakan rahasia Tuhan sendiri. Tidak seorang pun dapat mengatakan mengapa kini ada banyak roh /arwah sedangkan biasanya hanya ada sedikit saja, atau sebaliknya. Alam arwah hanya diketahui Tuhan saja. Pengetahuan manusia tentan hal itu sedikti malah tak ada. ” (Arberry 1955, I:311-312)

  • [SABIR, MAHASISWA KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA & KETUA PENGEMBANGAN MINAT DAN BAKAT HIMPUNAN PEMUDA PELAJAR DAN MAHASISWA BUTON INDONESIA/HIPPMIB-BERSATU JAKARTA 2006-2008 M]

Artikel terkait :

Refrensi :

*http://id.wikipedia.org/

17 Tanggapan to "Kesultanan Buton *chapter 3*"

menarik skali apa yg Sabir kemukakan, sekalipun perdebatan akan renkarnasi atau yg sepengatahuan sy mgkn bisa disebut Roh polimba yg juga merupakan salah satu kepercayaan masyarakat Buton sejauh ini belum ada pengkajian atau penelitian yg secara ilmiah intk bisa memudahkan kita dlm memahami nilanya atau bisa diterima oleh kalangan yg menolak, sy sbg orng Buton jg mpercaya n myakin sekalipun ada hal-hal yg secara logika tidak serta merta mudah untk dipahami. kalo ada pengetahuan tentang Martabat tujuh mgkn sy minta untuk dipaparkan jg ataupun nilai-nilai tasawuf Buton yg menkaji ttg Martbat Hamba n Martabat Tunggal atau Ketuhannan.

salut untuk saudara sabir….
sudah saatx bagi kita generasi muda buton untuk mengenal, mengkaji dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur budaya kita…adapun berbagai macam perbedaan persepsi maupun pendapat tentang nilai-nilai itu sepatutnya kita jadikan pembanding untuk mencari makna yang sesungguhnya.Pro kontra tentang reinkarnasi, ataupun perbedaan pemahaman tentang martabat tujuh adalah hal yang wajar.. tiap orang merdeka untuk mengemukakan pemahamannya…lagi-lagi ajaran-ajaran itu dilahirkan bukan untuk membuat perpecahan tetapi untuk KEDAMAIAN.

Sy tunggu karya2 selanjutnya, saudara Sabir.
Sukses selalu….

saya haturkan banyak terimakasih kepada saudara sabir yang telah memebverikan informasi ini ,saya harapkan masih ada lagi informasi2 yang lain tentang jaran tasawuf di buton

Saya Sabir, Penulis dari Artikel tersebut.

Kalau saudara2-mancuana2 tertarik dengan apa yang saya tulis, atau ingin ngobrol banyak maka silahkan datang ke Sekretarian Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Buton (HIPPMIB Bersatu-Jakarta) di: Jln Sedap Malam IV No. 4 RT/RW 08/08 PISANGAN CIPUTAT JAKSEL (Kompleks UIN Jakarta)
atau hubungi saya di:

0852 415 33655
021-94782571

salam
Sabir

kepada saudara Sabir

mengenai tulisan Anda

“Dalam kepercayaan Wolio dan Pulau Muna, perjalanan itu tidak berhubungan dengan hukuman atas hidup buruk. Sebaliknya, orang yang dapat menjalani perubahan ini sangatlah suci. Kisah yang terkenal ialah Sangia-i-rape, putra Sultan Murhum (k.l.1491-1537; bandingkan dengan Zahari 1977, I:46; nama sangia juga menunjukan kesucian).

Cerita ini berlangsung di Muna. Sangia-i-rape terkenal telah menuntut ilmu kebatinan. Pada suatu hati ia memperhatikan kulitnya yang mulai menyerupai kulit buaya. Putranya Sangia Wambulu, juga mengetahuinya dan merasa malu. Ia berkata kepada ayahnya, “Lebih baik saya bawa ayah ke laut, mandi disana.” Ketika mereka tiba di laut, Sangia-i-rape menaruh sarungnya di atas batu dan dimandikan oleh putranya. Ketika dimandikan, ia betul-betul berubah menjadi buaya. Karena ilmu yang ia tuntut itu, ia dapat langsung berubah menjadi buaya. Menurut seorang informan dari Wolio, ia jelas telah begitu dekat padaTuhan (opooputi oputa) karena dapat menjadi apa saja yang dia inginkan. Jika seseorang sudah begitu dekat pada Tuhan dan mencapai penyatuan dengan Tuhan seperti itu, maka ia dapat berbuat apa saja yang disukainya.”

Cerita ini sumbernya darimana dan apa dapat dipercaya?????

Karena kami saja keturunan dari Sangia Wambulu (anak Sangia Yi Rape” tidak perna mendengan cerita ini. kalaupun cerita ini dari orang Muna yang kami dengar hanya pernyataan orang muna mengenai hal ini “Kolabamo hintu oomu tae rugimo saidhi” yang maksudnya “Kalian yang beruntung (orang buton) sedangkan yang dirugikan kami” kerna kita tahu bahwa Murhum merupakan orang Muna tetapi keturunannya justru di Buton.

Adapun cerita yang ada pada kami Sangia Yi Rape (namanya Wa Rape dan lokasinya di Lowu-Lowu Kec. Kokalukuna Bau-Bau sekarang) itu merupakan orang tua angkat (orang yang memelihara) Sangia Wambulu (di Wolio namanya La Ode Ali) sehingga banyak diasumsikan bahwa Sangia Yi Rape ini anak dari Murhum dan pada saat dilahirkan ia kembar dengan buaya dan dilepaskan dilokasi tersebut, walaupun hal ini tidak dapat diterima akal. Adapun mengenai hal kebatinannya kalau yang sudah merasa dekat dengan Tuhan dan dapat merubah dirinya sesuai keinginannya namanya “Mia Membali” dan ini merupakan tingkat yang paling tinggi, tetapi tidak berarti berubah menjadi binatang.

dan lagi yang ingin saya komentari mengenai bahwa kalau sudah mencapai kema’rifat dan dekat dengan tuhan maka tidak perlu lagi shalat (syariat). hal ini yang benar sajalah???????
karena yang bilang begini pada umumnya justru orang yang malas sholat dan tidak tau apa2. hal ini dapat dilihat dari penjelasan anda bagaimana proses penciptaan manusia dari pertemuan “titina Ba dengan huruf Mim” hal ini diambil dari surat alfatiha dan sangat berkaitan dengan shalat. misalnya saja di buton sering muncul pertanyaan “Sholat dimulai dari apa dan mengapa shalat lohor dan asar 4 rakaat dan tidak bersuara, mengapa shalat magrib 3 rakaat dan shalat isya 4 rakaat dan sudah boleh bersuara dan mengapa shalat subuh 2 rakaat dan harus bersuara” karena hal ini semua menyangkut proses penciptaan manusia. Sehingga sering menyatakan kalau tidak cukup sholatnya sehari berarti orang itu tidak cukup sebagai seorang manusia” Makanya pernyataan Anda tersebut sangat bertolakbelakang dengan ilmu orang Wolio yang Hakiki.

Mengenai hal ini sudah sering saya dengar bahkan semenjak saya kecil, tetapi pada waktu itu saya belum mengerti,dan perna saya bertanya “mengapa tidak shalat dan jawabannya pada saat itu, inti dari shalat adalah mengingat Allah SWT jadi tidak perlu ada gerakan” setelah saya kuliah dan baru ketemu lagi dengan orang tua ini saya bertanya lagi tolong ajarkan saya ilmu wolio “jawabnya , selama ini saya salah dan ternyata shalat itu sangat penting dan semua ilmu wolio ada dan dari alQur’an dan ilmunya orang wolio yang paling tinggi adalah Doa Kadhara dan Doa Toba Ogena yang ternyata merupakan Doa Kudrat dan doa Tobat Besar yang diajarkan Rasulullah. Menganai doa2 ini sudah sangat jarang.

Salam Lauwi.

bagus banget nich desainnya, kunjungan balik y🙂

saya meluruskan sedikit,, bahwa mengapa di sebut sangia rape, karna yg mengasuh mangga pore adalah warape namanya. mangga pore ini adalah anak dari murhum atau orang tua dari sangia wambulu, karna itulah mangga pore di kenal dengan sangia rape.

kepada saudara sabir dan pak la uwi,, di saya katakan bahwa apa yg di katakan sudara sabir dan komentar pak aluwi tentang shalat. itu benar semua.. orang tua dahulu yg ada di wolio,, walapun kita tdk melihat raganya ut shalat, tapi hati dan perasaan mereka itu mengerjakan shalat.. saya perna brtanya kepada orang tua yg ada di wolio.. dia mengatakan. shalat itu ada 4 bagian.. yaitu..shalat (gerakan badan), yang shalat( hati dan perasaan), yg mengerjakan shalat( roh) asalnya shalat( ALLAH SWT). dan satu persatu, smua ini ada penjelasanya lagi. itulah kelebihan orang tua yg ada di wolio,, karna mereka sangat tinggi ilmu tasaufnya.

barokallah….

salam kenal sdr sabir.saya dapat info dari guru saya.bahwa kesultanan buton kerajaan tertua di indonesia yang adanya wali 9.dari wali 9 mengangkat sunan 9 di jawa.Allah yang maha tahu…

salam sobat sabir….. saya keturunan buton yang tinggal di kepri

ini istilah muna kita bisa ambil pelajaran,,,
Asambahya maka mina asumambahya,,,
Mina asumambahya maka asambahya,,,
Artix,,,
Sy shalat tp sy tdk shalat,,,
Sy tdk shalat tp sy shalat,,,
Maknax,,,
Untuk apa sy shalat tp perbuatan sy tdk seperti org shalat,,,misalx tdk sopan,,,tdk menghargai org lain,,,sll menyakiti perasaan org lain,,,apa seperi itu org shalat,,,?
Sy tdk shalat tp dia orgx sopan, menghargai org lain,,tdk mau menyakiti perasaan org lain..
Skrg bisa kita lihat disekeliling kita, shalatx rajin,,,ngajinya lancar,,,tp kelakuanya sll menyinggung n menyakiti perasaan org lain,,,
Ingat ayat alqur’an yg bunyinya,,
Hablu minnas hablu minallah,,,
Jadi, hubungan kt sesama manusia sebelum hubungan kita dengan tuhan.
Tp yg lebih bagusx orgx shalat n perbuatanya sesama juga baik,,,
Maaf sy hanya kasi sedikit pendapat buat kita jadikan renungan agar kita lebih baik bkn untuk kt berpecah bela,,,

terima kasih atas atensi kawan2 yang telah memberikan komen..😀

salam kenal kepada kawan-kawan semua..

Terimakasih telah memposting artikel tentang Kesultanan Buton dengan sangat lengkap. Saya ingin mendapatkan informasi tentang putra-putri Sultan Buton dari awal2 Kesultanan. Tete dan Nene saya di pulau Buru Maluku mengatakan demikian, bahwa yang membawa agama Islam ke pulau Buru adalah dari Kerajaan dan Kesultanan Buton. Mereka lah yang telah menciptakan komunitas Islam pertama kali di pulau Buru.
Kemudian kata beliau karena diciptakan satu komunitas Islam baru di pulau ini yaitu di Wamlana Buru, mereka menyarankan untuk membentuk seorang pemimpin atau Raja Buru dengan nama yang sangat baru yaitu Hentihu.
Nama ini juga menjadi nama marga saya sekarang. Mohon pencerahannya, siapakah keluarga Kesultanan Buton yang membawa agama Islam ke pulau Buru.. Terimakasih

sy orang lowu-lowu. di tempat saya ada sebuah pemakaman. orang menyebutnya kuburan keramat Wa Rape. apakah kuburan ini adalah tempat dikuburkannya sangia yi rape?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mukadimah

Selamat Datang di blognya unggun. Jangan sungkan dan malu | silahkan dibaca, didunlud dan dicopas artikelnya | jangan lupa tuliskan gundala69.wordpress.com sebagai sumber artikel | tinggalkan jejakmu diruang komen biar aku tahu kedatanganmu | jika ada yang kurang berkenan silahkan add YMku tuk curhatnya. trims..UN69UN

YMku : gun.dala69

lEmbar ArsipKu

RSS sains nEws

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

pEringkat atas

tweet’Ku !!!

pEnyusup :

  • 376,924 ter'identifikasi

pEnutup

Terima kasih atas kunjungannyanya..bila ada waktu jangan lupa tuk nyasar kesini lagi ya..bye..bye

komuni-tasKu

%d blogger menyukai ini: