Posted by: gundala on: 7 Mei 2008
a. Asal usul
Sebagai sebuah negeri, keberadaan Buton Tercatat dalam Negara Kertagama karya Mpu Tantular pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para Resi yang dilengkapi dengan taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru.
Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah : Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M.
Empat orang (Mia Patamiana) tersebut terbagi dalam dua kelompok : Sipanjongan dan Sijawangkati, Simalui dan Sitamanajo. Kelompok pertama beserta para pengikutnya menguasai daerah Barangkatopa.
Sipanjongan dan para pengikutnya meninggalkan tanah di Semananjung Melayu menuju kawasan timur dengan menggunakan sebuah perahu palolang pada bulan Syaban 634 Hijriyah (1236 M). Dalam perjalanan itu, mereka singgah pertama kalinya di pulau Malalang, terus ke Kalaotoa dan akhirnya sampai di Buton, mendarat di daerah Kalampa. Kemudian mengibarkan bendera Kerajaan Melayu yang disebut Longa-Longa. Ketika Buton Berdiri, bendera Longa-Longa ini sebagai bendera resmi kerajaan Buton.
Sementara Simalui dan para pengikutnya diceritakan mendarat di Teluk Bumbu, sekarang masuk dalam daerah Wakarumba. Pola hidup mereka berpindah-pindah hingga akhirnya berjumpa dengan kelompok Sipanjonga. Akhirnya terjadilah percampuran melalui perkawinan. Sipanjonga menikah dengan Sibaana, saudara Simalui dan memiliki seorang putera yang bernama Betoambari. Setelah dewasa Betoambari menikah dengan Wasigirina, putri Raja Kamaru. Dari perkawinan ini kemudian lahir seorang anak bernama Sangariarana. Seiring perjalanan, Betoambari kemudian menjadi penguasa daerah Peropa, dan Sangariarana menguasai daerah Baluwu. Dengan terbentuknya desa Peropa dan Baluwu berarti ada empat desa yang memiliki ikatan kekerabatan, yaitu : Gundu-gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Keempat desa ini kemudian disebut Empat Limbo dan para pimpinannya disebut Bonto. Kesatuan keempat pemimpin desa (Bonto) ini disebut Patalimbona. Mereka inilah yang berwenang memilih dan mengangkat seorang Raja.
Selain empat Limbo diatas, dipulau Buton juga telah berdiri beberapa kerajaan kecil yaitu : Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula Todanga dan Batauga. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan-kerajaan kecil dan empat Limbo diatas kemudian bergabung dan membentuk sebuah kerajaan baru dengan nama Kerajaan Buton. Saat itu kerjaan-kerjaan kecil tersebut memilih seorang wanita yang bernama Wa Kaa Kaa sebagai raja. Peristiwa ini terjadi sekita tahun 1332 M.
Berkaitan dengan asal-usul nama Buton, Menurut tradisi lokal berasal dari Butu, sejenis pohon beringin (barringtonia asiatica). Penduduk setempat menerima penyebutan ini sebagai penanda dari pelaut nusantara yang sering singgah di pulau itu. Diperkirakan nama ini telah ada sebelum Majapahit datang menaklukannya. Dalam surat menyurat, kerajaan ini menyebut dirinya Butuni, orang Bugis menyebutnya Butung dan Belanda menyebutnya Buton. Selain itu dalam arsip Belanda negeri ini tercatat dengan nama Butong (Bouthong). Ketika Islam masuk ada usaha untuk mengkaitkan nama Buton ini dengan bahasa Arab. Dikatakan, nama Buton berasal dari kata Arab, bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan.
bersambung…..Masuknya Islam di Buton
dhrtiytiyyi
trim’s for blognya unggun because I baru pertama membacanya, i hope anamoahe dan kalambe can read it
bingung……………………..!!!
8 Mei 2008 pada 3:19 pm
nah kan bersambung baiknya da gbr sehingga orang tertarik baca lanjutannya